Red Flag Kesehatan Mental: Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan Anak Muda
Kenali
Gejala Yang Sering Kita Abaikan
Kadang
kita merasa hidup itu seperti tombol fast forward 🎬 – semua berasa berjalan cepat banget,
kayak nggak ada jedanya. Di balik kesibukkan kuliah, kerja, atau sekedar
menjaga eksistensi di media sosial, sering kali kita nggak sadar kalau tubuh
dan pikiran kita sudah berusaha teriak minta istirahat. Gejalanya bisa
macam-macam: Overthingking yang bikin otak kita nggak bisa berhenti
untuk mikir 🤯, Burnout karena memaksa diri terus untuk
produktif 💻, Insomnia ketika susah untuk tidur meski
badan kita itu sudah capek 😴, Emosi yang gampang sekali meledak-ledak
bahkan dengan masalah kecil sekalipun 😡, Kehilangan motivasi untuk melakukan hal-hal
yang dulu terasa menyenangkan.
Psikolog
klinis Indonesia, Pingkan Rumondor, M.Psi., Psikolog, pernah bilang
bahwa overthingking berlebihan itu bisa membuat energi mental kita itu cepat
sekali terkuras, sehingga akhir nya berdampak negative ke tubuh kita. Sementara
itu, menurut American Psychological Association (APA), stress yang
berkepanjangan bisa mengubah cara kerja otak, khususnya bagian yang mengatur
emosi dan memori. Jadi, kalau gejala-gejala ini sering muncul, itu bukan hanya
sekedar “lagi capek”, tapi itu Adalah signal yang seharusnya nggak boleh
diabaikan.
Bedanya
Stress Normal Dan Masalah Mental Serius
Perlu
diingat, stress itu bukan musuh kita, Stress itu Adalah bagian alami dari hidup
manusia. Misalnya, sebelum ujian kita merasa tegang 📚, atau saat presentasi kerja kita
merasa jantung kita berdegup kencang banget. Itu normal, dan biasanya hal ini
bakal hilang setalah situasi tersebut selesai. Tapi masalah nya akan muncul
ketika rasa cemas, gelisah, atau Lelah itu nggak hilang-hilang, bahkan setelah
masalah utama tersebut lewat. Kalau sudah sampai mengganggu tidur, menurunkan
konsentrasi, bikin hubungan dengan orang lain menjadi renggang, itu tandanya
kita sudah masuk ke ranah masalah mental yang lebih serius 🚨.
Dr.
Andri, SpKJ (K), seorang
psikiater di Indonesia, sering sekali menekankan bahwa stress yang dibiarkan
tanpa ditangani bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi. Sama
halnya dengan penjelasan World Health Organization (WHO) yang menyatakan
bahwa burnout Adalah sindrom akibat stress kronis yang tidak terkelola dengan
baik. Intinya, stress normal itu seperti alaram sebentar, sementara masalah
mental serius Adalah alaram yang tidak berhenti berbunyi meski kita sudah
mencoba untuk menutup telinga.
Ilustrasi
Keseharian: Pernah Ngalamin Kayak Gini?
Bayangkan
kamu bangun pagi dengan rasa capek yang enggak hilang, padahal semalam tidurnya
udah cukup lama. Siang harinya, kerjaan atau tugas kuliah terasa menumpuk
banget, tapi otak seolah nge-blank dan fokus susah banget digapai.
Hal-hal kecil, seperti teman yang telat balas chat atau file yang hilang di
laptop, bisa bikin kita kesal yang berlebihan ⚡.
Malam
hari, bukannya istirahat tapi pikiran malah muter-muter terus – “besok harus
gimana ya?”, “kenapa aku nggak bisa kayak orang lain ya?”, atau sekedar
mengulang-ulang hal-hal yang sebenarnya udah lewat. Akhirnya, mata susah merem,
dan gak terasa sudah jam 2 pagi saja dan kamu masih saja menatap langit-langit
kamar di kegelapan sambil merasa kosong 🌙. Yang lebih berat lagi kalau hobi atau aktivitas yang
dulunya bisa bikin kita Bahagia tapi sekarang malah terasa hambar. Misalnya
dulu suka banget dengerin music atau nonton film untuk jadi pelarian sejenak,
tapi sekarang hal itu sudah gak bisa lagi bikin kita semangat.
Kalau
kamu pernah berada diposisi ini, kemungkinan besar itu bukan hanya sekedar
“capek biasa”. Seperti dijelaskan Christina Maslach, seorang professor
psikologi yang banyak meneliti tentang burnout, kondisi ini Adalah salah satu
hasil dari stress yang menumpuk sudah cukup lama sehingga membuat kita
kehilangan energi, semangat, bahkan makna dari apa yang kita kerjakan.
Kesimpulan:
Jujur Sama Diri Sendiri Itu Penting
Stress
Adalah bagian dari hidup, tapi bukan berarti semua harus dianggap normal. Jika
kita sering merasa overthingking berlebihan, insomnia, mudah marah, atau bahkan
kehilangan motivasi, itu Adalah tanda bahwa tubuh dan pikiran kita sedang minta
tolong 🆘.
Seperti kata National Institute of Mental Health (NIMH) di Amerika,
Langkah awal menjaga Kesehatan mental Adalah dengan berani mengakui kalau diri
kita itu lagi gak baik-baik saja.
Psikolog
klinis Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog juga sering mengingatkan
bahwa Kesehatan mental sama pentingnya seperti Kesehatan fisik. Jujur pada diri
sendiri itu bukan lah sebuah kelemahan, tetapi justru keberanian. Karena dengan
begitu, kita bisa mengambil Langkah untuk pulih – entah itu dengan istirahat,
cerita pada orang yang kita percayai, atau bahkan mencari bantuan profesional.
Akhirnya, merawat mental itu bukan hanya soal terlihat kuat di luar saja, tetapi soal punya kedamaian didalam. Kadang, hal paling berani yang bisa kita lakukan Adalah berkata “Aku butuh bantuan” 💙 dan itu sama sekali bukanlah hal yang memalukan.
-LS096-
Sumber yang menjelaskan bagaimana stres kronis memengaruhi cara kerja otak, khususnya bagian yang mengontrol emosi, memori, dan memicu overthinking yang menguras energi.
Panduan mengenai kapan rasa cemas atau stres normal harus dianggap sebagai masalah mental yang membutuhkan perhatian profesional (ketika gejala mengganggu fungsi harian secara signifikan).
Comments
Post a Comment